Hubungi kami

Darat

Menjaga Layanan Bus DAMRI

Diterbitkan

Oleh Darmaningtyas#

Kasus mogoknya layanan DAMRI jurusan Bandara Soekarno Hatta Hari Sabtu, 6 Juli 2019 merupakan puncak aksi mereka yang menolak kebijakan manajemen menghapuskan helper (kenek) di kendaraan yang melayani ke Bandara Soekarno-Hatta. Sebelumnya, sejumlah helper telah melakukan aksi demo di pool Cakung, Jakarta Timur (27/6), saat itu mereka menolak rencana penghapusan helper tersebut.

Belum diperoleh keterangan jelas, apa motivasi utama manajemen DAMRI yang menghapus helper tersebut. Mungkin untuk efisiensi saja. Sebab kalau dilihat dari perspektif konsumen (pengguna) ini jelas kebijakan yang salah, karena saya sebagai konsumen betul-betul merasa terbantu dengan keberadaan helper tersebut. Bahkan karena merasa terbantu itu, kadang saya tidak keberatan memberikan tip kepada mereka. Dapat dibayangkan kalau ada penumpang yang berusia di atas 60 tahun atau ibu hamil, atau ibu membawa anak dan membawa membawa koper besar, lalu mereka harus memasukkan sendiri koper atau tas itu ke bagasi, tentu mereka merasa kerepotan. Fungsi helper di situ, membantu mempermudah dan mempercepat layanan kepada penumpang. Fungsi helper itu juga menjaga agar koper/tas penumpang tidak saling tertukar dengan penumpang lain melalui slip bagasi yang diberikan kepada penumpang saat akan naik.

Saya memang belum pernah naik DAMRI Bandara paska dihapuskannya helper. Namun saya pernah menyaksikan sekali di Halte Pomad Jl Pasar Minggu pada tanggal 26 Juni 2019 malam. Saat itu saya pas jalan di sana dan melihat Bus DAMRI dari Bandara menurunkan penumpang. Saat itu pengemudi turun membantu penumpang mengeluarkan bagasinya. Tentu saja ini selain menambah pekerjaan pengemudi yang sudah stress dengan kemacetan jalan, juga menimbulkan tundaan perjalanan, sementara jalan di sana sempit sehingga menimbulkan kemacetan kemacetan di belakangnya. Kondisi lapangan seperti ini tampaknya tidak dipahami oleh manajemen DAMRI saat mengambil putusan menghapuskan helper.

Saat ini diperkirakan ada 250 helper yang melayani armada jurusan Bandara Soetta. Tentu ini bukan hal kecil, karena helper itu mayoritas sudah berkeluarga dan tidak mudah untuk mendapatkan lapangan kerja baru di tengah usianya yang sudah setengah baya dan dengan kompetensi terbatas.

Upaya manajemen DAMRI membenahi layanan DAMRI dengan menghapus fungsi helper adalah langkah mundur, bila kita berkaca pada layanan PT KAI, khususnya KRL Jabodetabek yang makin memperbanyak petugas di gate dan peron, semua itu untuk mempermudah dan mempercepat layanan kepada penumpang. PT KCI memiliki keyakinan, ketika layanan kepada penumpang semakin baik, maka jumlah penumpang KCI akan makin meningkat. Magajemen DAMRI harusnya memiliki filosofi seperti yqng dimiliki oleh manajemen PT KCI, bukan justru menghapuskan helper yang berfungsi membantu mempermudah dan mempercepat layanan kepada konsumen.

Profesionalitas manajemen DAMRI akan terukur dari meningkatnya kualitas layanan tanpa harus melakukan PHK pada mereka yang selama ini telah menjalankan fungsi membantu penumpang. Yang dibutuhkan dari manajemen DAMRI sebetulnya bukan menggusur helper, tapi memberdayakan mereka agar betul-betul membantu peningkatan kualitas layanan DAMRI dan mereka juga memperoleh penghidupan yang layak. Mencioptakan efesiensi dengan mem-PHK karyawan atau menutup cabang yang maju bangkrut adalah langkah yang paling mudah, tapi langkah itu harus dihindari, karena pantang bagi seorang professional. Profesionalitas manajemen DAMRI akan terukur dari kemampuan menyelamatkan usaha-usaha yang mau bangkrut tersebut menjadi berkembang dan memberdayakan sumber daya manusia yang telah ada menjadi lebih professional dan meningkatkan kualitas layanan DAMRI.

Yang perlu diingat adalah bisnis transportasi di DAMRI itu berbeda dengan perusahaan otobus swasta lain yang mengajar keuntungan semata. Yang utama bagi DAMRI adalah memberikan layanan seluas-luasnya dengan seminim mungkin subsidi dari negara, sehingga memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat, termasuk sebagai pekerja di DAMRI, sehingga dapat mengurangi angka pengangguran. Jadi ada misi sosial dan merah putih dalam layanan DAMRI tersebut. Modernisasi layanan itu harus, tapi jangan sampai mengorbankan kualitas layanan itu sendiri. (*)

 

#pengamat transportasi, Ketua INSTRAN (Inisiatif Strategis untuk Transportasi)

Lanjutkan membaca
Klik untuk komentar

Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Advertisement banner 300x250

Infrastrukt & Teknologi

Regulasi